Minggu, 04 November 2012

Filzafat Umum Akal dan Hati Pada Pasca Modern


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Filsafat berasal dari bahasa yunani yang telah diarahkan, kata ini berasal dari dua kata “philos” dan “shopia” yang berarti pecinta pengetahuan, konon yang pertama kali menggunakan kata “philoshop” adalah Socrates (dan masih konon juga) dia menggunakan kata ini karena dua alas an pertama, kerendah hatian dia meskipun ia seorang yang pandai dan luas pengetahuannya dan tidak mau menyebut dirinya sebagai orang yang pandai. Tetapi ia memilih untuk disebut pecinta pengetahuan.
Orang yang mula-mula sekali menggunakan akal secara serius adalah orang yunani yang bernama Thales (kira-kira Tahun 624-546 SM) orang inilah di gelari bapak filsafat.Jika munculnya Socrates dapat di anggap sebagai reaksi terhadap akal yang terlalu mendominasi manusia, maka munculnya Descartes dapat dianggap sebagai reaksi terhadap dominasi suara hati (dalam haliman Kristen) terhadap jalan hidup manusia. Dua tokoh besar muncul dari dua latar belakang yang amat berbeda yang satu muncul karena ulah akal ,yang satu lagi muncul karena ulah orang mengatas namakan agama Kristen yang terlalu dipengaruhi oleh hati atau rasa.
Adapun sistem yang hendak diajukan yaitu manusia ideal adalah manusia yang utuh, yaitu manusia yang menggunakan indra, akal, dan hatinya secara seimbang, manusia yang jalan hidupnya ditentukan oleh pertimbangan indra, akal dan hatinya secara seimbang, sekaligus, dan menyeluruh.
     
B.    Rumusan Masalah
Dalam makalah ini agar lebih mudah untuk dipahami maka penulis berupaya untuk memberikan batasan hingga mudah di mengerti dengan jelas isi makalah ini sendiri baik dengan rumusan sebagai berikut :
a.      Zaman Pasca Modern
b.     Al- Faraby
c.      Al- Kindy
d.     Ibnu Taiymiyah

  
BAB II
AKAL DAN HATI PADA ZAMAN PASCA MODERN

A.    Zaman Pasca Modern
Fisafat yang umun digunakan ada tiga yaitu filsafat yunani kuno (Ancient Philosophy), filsafat abad tengah (Middle Ages Philosophy), dan filsafat modern (Modern Philosophy). Filsafat pada masa yunani kuno didominasi oleh Rasionalisme, abad tengah di dominasi agama Kristen, dan filsafata bad modern didominisasi lagi oleh Rasionalisme, ketika itu memang sudah ada muncul jenis filsafat baru, sehingga filsafat keempat itu disebut sebagai filsafat kontenpordeks (Contemporary Philosophy). Periode ini disebut filsafat pasca modern (Post Modern Philosophy), biasanya anak-anak sering menyebutkan filasafat posmo.
Bila hubungan antara hati dan akal manusia telah diputuskan maka manusia akan memperoleh kenyataan tentang behwa pernyataan tentang rumusan hidup ideal tidak akan pernah terjawab. Memilih sains dan tekhnologi sebagai satu-satunya gantungan hidup, atau meletakkan sains dan tekhnologi sebagai pemegang otoritas tertinggi dalam kehidupan, berarti kita telah menyerah kehidupan manusia kepada alat yang dibuat sendiri.
Kritik filsafat pasca modern terhadap filsafat modern terungkap dalam istilah dekonstruksi seperti yang digunakan oleh para tokoh filsafat pasca modern. Apa yang telah di dekonstruksi oleh filsafat pasca modern ? Filsafat pasca modern itu adalah rasionalisme, yang dikontribusi tentu saja rasionalisme  yang digunakan untuk membangun seluruh isi kebudayaan dunia barat.
Tokoh-tokoh filsafat pasca modern cukup banyak yaitu seluruh tokoh filsafat dekonstruksi seperti Arkoun, Derrida, Foucault, wittgenstien. Berpendapat bahwa Nietzsche adalah tokoh-tokoh pertama yang sudah menyatakan ketidak puasannya terhadap dominasi atau pembawaan rasio pada tahun 1880 an, dan mungkin dapat tokoh pertama Filsafat dekonstruksi adalah Nietzsche itu, jadi dikatakan tokoh pertama filsafat pasca modern adalah Nietzsche itu.
Pada tahun 1880 an Nietzsche telah menyatakan bahwa budaya barat telah berada di pinggir jurang kehancuran karena terlalu mendewakan rasio, dan tahun 1990 an capra menyatakan bahwa budaya barat telah hancur juga karena terlalu mendewakan rasio, mengapa ? karena ia merupakan filsafat yang keliru dan juga keliru cara menggunakannya, yaitu rasionalisme dan kekeliruan dalam menggunakan rasionalsme itulah budaya barat hancur.
Seodjatmoko (1984:202) mengatakan bahwa ilmu dan teknologi sekarang ini berhadapan dengan pertanyaan pokok tentang jalan yang harus ditempuh, pernyataan itu sebenarnya berkaisar pada masalah ketidak mampuan manusia mengendalikan ilmu dan teknologi itu. Jalannya ilmu dan teknologi tidak dapat lagi dikendalikan manusia. Pernyataan pernyataan mengenai dirinya sendiri mengenai tujuan dan cara pengembangannya tidak akan dijawab oleh ilmu teknologi tanpa menoleh pada patokan mengenai moralitas, makna dan tujuan hidup , termasuk apa yang lebih baik dan yang buruk kepada manusia modern. Patokan tentang moralitas, makna dan tujuan hidup ternyata berakar pada agama, kata Soedjatmoko (1984 : 203).
Pada aspek ekonomi terdapat pulan ancaman serius, menghadapi ancaman rangkap tiga (habisnya sumber energy, inflasi, pengangguran) dalam bidang ekonomi telah menyebabkan politisi tidak tahu lagi mana yang harus diselesaikan terlebih dahulu, mereka bersama-sama dengan media berdebat tentang prioritas, tanpa menyadari bahwa masalah-masalah ekonomi itu dan juga masalah kesehatan dan lingkungan tadi sebenarnya merupakan sebuah kritis tunggal d an (capra, 1998 : 9).
Kata capra, pada intelektual menyebut nama sumber kemunduran tadi adalah keadaan semacam Vietnam, Watergate, dan bertahannya perkampungan kumuh, kemiskinan dan kejahatan, namun tidak seorangpun dari mereka. Demikian capra , mengenali persoalan sebenarnya yang mendasari krisis itu menurut capra persoalan yang sebenarnya adalah persoalan sistemik yang berarti persoalan itu saling berhubungan dan saling bergantung. Menurut capra, awal persoalan itu dimulai dari kekeliruan pemikiran.
Menurut pendapat kami, kami setuju bahwa budaya barat berada dipinggir jurang kehancuran karena apabila kita hanya menggunakan rasio tanpa menggunkan hati maka akan hampa atau tidak seimbang, alangkah bagusnya apabila kita dalam melakuan sesuatu selalu menggunakan rasio juga menggunakan hati agar hasil dari perbuatan kita yaitu tidak akan menimbulkan kegiatan disatu pihak.
Dan melihat kemungkinna lain, yaitu harus ada tiga paradigma (masing masing untuk budaya sains dan seni dan etika untuk merekayasa kembali budaya dunia, ketiga paradigma itu harus diturunkan dari islam, mengapa mengambil islam bukan I ching ? karena sekalipun seandainya filsafat I ching itu dunia sebagai suatu keseluruhan, tetapi filsafat itu belum pernah pernah mampu membangun suatu masyarakat atau Negara sesuai dengan isi filsafat itu sedangkan islam, selain juga ajarannya juga melihat dunia sebagai suatu keseluruhan telah membuktikan dirinya mampu membentuk masyarakat Negara yang menrapkan isi filsafatnya itu, yaitu Negara madinah pada zaman Nabi, Abu Bakar dan Umar kemudian muncul lagi pada zaman Umar Bin Abdul Azis, dan sekali lagi pad zaman makmud di Baghdat.
Sebenarnya untuk pengembangan budaya sains, paradigma ini sungguh sesuai dan amat memadai, tetapi untuk mengembangkan budaya dalam bidang seni dan etika paradigma itu tidak memadai. Yang dilakukan dibarat ini selama ini adalah paradigma sains, itu digunakan dalam pengembangan budaya sains, dan dipaksakan juga digunakan dalam pengembangan budaya seni dan etika, dan disinilah letak penyebab awal itu seharusnya untuk pengembangan budaya sains digunakan paradigma sains, untuk budaya seni digunakan paradigma lain yang sesuai, demikian juga untuk pengembangan budaya etika.
Jauh sebelum munculnya kesadaran akan kehancuran budaya barat, Nietzsche (1844-1900) telah meningkatkan orang akan kekeliruannya dalam mendewakan rasio. Hadermas misalnya mengatakan bahwa Nietzsche adalah titik balik kesadaran manusia akan rasinalistanya (Sunardi, 1996 : V). ia sangat keritis terhadap cita-cita modernisme yang berkuasa di Erofa pada waktu itu, kepercayaan akan proses sudah dilecehkan Nietzsche sejak akhir abad lalu. Kegairahan orang akan rasionalisme ketika itu dirombak oleh Nietzsche, jika akhir akhir ini orang menderita demam dekonstruksi, maka Nietzsche yang menjadi pencetusnya.
Dari analisis filsafat dan sejarah kudyaan kita mengetahui bahwa budaya barat di susun dengan menggunakan hanya satu paradigma, yaitu paradigma sains (Scientific Paradigma). Paradigma ini di susun berdasarkan warisan Descartesdan Newton. Warisan dua tokoh ini merupakan inti pembahasan dari capra,ia menyatakan bahwa paradigma yang diturunkan dari cartesian dan Newtonian itulah bahwa yang menghasilkan paradigma tunggal yang digunakan dalam mendesains budaya barat. Kesalahan terjadi karena karena paradigma itu tidak melihat alam ini pada bagian yang emperiknya saja.
Haedar Nashir, dalam agama dan kritis kemanusiaan modern (1990) mengungkapkan bahwa beberapa segi menarik pada krisis manusia modern. Pendewaan rasio manusia telah menjerumuskan manusia pada sekularisasi kedadaran dan pencciptaan ketidak berartian hidup,penyakit mental justru menjadi penyakit zaman seperti keserakahan, penyakit mental justru melakukan kekerasan. Kekerasan itu amat mungkin berkembang karena adanya pandangan bahwa ukuran keberhasilan seseorang adalah sejauh mana ia mampu mengumpulkan materi dan symbol-simbol lahirlah yang bersifat formal.
Ancaman lain masih ada, kelebihan penduduk dan teknologi industri telah menjadi penyebab terjadinya degradasi hebat pada lingkungan alam sepenuhnya menjadi gantungan hidup kita. Yang ini pun mengancam kesehatan, dan kesejahtraan umat manusia. Kota-kota besar telah diselimuti asal tebal yang berwarna kuning-kuningan yang tersa nenyesatkan dada.polusi udara yang terus menerus ini tidak hanya mempengaruhi manusia melainkan juga menggaanggu system ekologi.polusi udara membunuh tumbuh-tumbuhan dan mengubah secara drastis polusi hewan yang tergantung pada tetumbuhan itu.
Secara rinci menjelaskan bahwa yang mengancam kehidupan ras manusia. Dan ketidak mampuan kaum intelektual mencari jalan mengatasinya. Cata capra kita telah menimbun puluhan senjata nuklir, yang cukup untuk menghancurkan dunia beberapa kali, dan perlombaan senjata itupun berlanjut dengan kecepatan yang melaju. Pada bulan November 1978. Sewaktu Amerika Serikat dan Uni Soviet sedang menyelesaikan babak kedua pembicaraan pembatasan senjata nuklir dan dua tahun kemudian program tersebut memuncak dalam ledakan militer terbesar dalam secara anggaran belanja 5 tahun untuk pertahanan sebesar 1000 Miliar dolar.sejak itu pabrik senjata yang kekuatan penghancurnya belum pernah tertandingi.
Pembuatan senjata besar-besaran oleh negara kaya dan pembelian senjata besar-besaran oleh Negara miskin cukup menyebabkan capra heran. Tentu saja pada umumnya manusia normal akan heran karena pihak lain lebih dari 15 juta orang sebagian besar ana-anak meninggal karena kelaparan setiap tahun,500 juta lainnya kekurangan gizi serius, hamper 40 % penduduk dunia tidak mempunyai peluang untuk mendapatkan pelayanan kesehatan professional, 35 % pendudik dunia kekurangan air bersih, sementara Negara-negara sedang berkembang menghabiskan biaya untuk persenjataan 3 kali lebih besar ketimbang untuk kesehatan, dunia sedang penuh kontradiksi.
Tiga dasa warsa menjelang terakhirnya abad ke-20, terjadi perkembangan baru yang mulai menyadari bahwa manusia selama ini telah salah dalam menjalani kehidupanya. Dunia ilmu muncul pandangan yang menggugat paradigma positivistic. Tokoh seperti Kuhn (1970) telah mengisyaratkan adanya upaya pendobrakan ia mengatakan bahwa kebenaran ilmu bukanlah suatu kebenaran Sui generis (objektif). Dengan mengatakan bahwa kebenaran ilmu bukanlah suatu kebenaran ilmu bukanlah suatu kebenaran positivism ang menjadikan Rasionalisme sebagai andalan satu-satunya.
Hermer Suwardi, guru besar filsafat ilmusarjana Universitas Padjajaran Bandung dengan mengecam paradigma filsafat ilmu yang digunakan dibarat. Filsafat ilmu yang di Barat, katanya, hanya mengandalkan satu paradigm ini tidak mampu melihat alam semesta secara keseluruhan. Karena ini ia mengusulkan paradigm baru yaitu paradigma ilmu yang tersumber pada Tuhan.
Capra telah menulis buku yang di siapkan dalam jangka panjang. Mula-mula ia menulis The Tao Of Physies. Buku ini telah menggerakkan dunia filsafat khususnya filsafat fisika , dalam buku ini capra mencoba memperhatikan hubungan antara revolusi spiritual dengan Fisika (capra, 1998:xxiii) enam tahun kemudia ia menerbitkan buku penting, The Turning point : Science, Society and The Rising Culture, dalam edisi bahasa Indonesia titik balik perdaban.
Apa saja isi filsafat zaman pasca zaman modern itu? Isiny banya tetapi ada yang paling penting, filsafat pasca modern  tidak puas terhadap Rasionalisme, karena itu Rasionalisme harus didekonstruksi yang baru? Saya kira belim ada yang sungguh-sungguh penting dan mendasar. Para filosof dekonstruksi (yaitu para filosof pasmo) baru hamper selesai membicarakan cara merekonstruksi filsafat baru, mereka masih menyelesaikan metodologinya.

B.    Al-Kindy
Al-Kindilahir  pada tahun 809 M, nama sebenarnya adalah Abu Yusuf Ya’kub Bin Ishak Al-kindi. Ia adalah keturunan suku Kindah, Arab selatan yang merupakan salah satu suku Arab besar pra-islam. Ayahnya Ishak Al-Sabah adalah seorang Gubernur Kufah di masa Khalifah Al-Mahdi (775-78 M) dan Khalifah Ar-Rasyid (786-809 M). Ia lahir ditengah keluarga yang kaya akan informasi kebudayaan dan berderajat tinggi serta terhormat dimata masyarakat. Al-Kindi (185 H/873 M). 
Ia pergike Bashra yang pada saat itu merupakan tempat persemian gerakan intelektual pada pusat ilmu pengetahuan yang besar. Ia lalu pergi ke Baghdad dan menyelesaikan pendidikannya, disini ia berkenalan dengan Al-Ma’mun, Al-Mu’tasim dan Ahmad Putra Al-Mu’tasim. Ia diangkat sebagai guru pribadi Ahmad, yang padanya ia mempersembahkan karya-karya yaitu :
1.     BidangAstronom
2.     Meteorology
3.     Ramalan
4.     Besaran (Magnitude)
5.     IlmuPengobatan
6.     Geometri
7.     IlmuHitung
8.     Logika
9.     Sferika
Karya-karya yang disebutkan diatas adalah merupakan sebagian terkecil dari sekian banyak Al-Kindi. Karya Al-kindi disusun oleh An-Nadim yang menyebutkan tidak kurang dari 242 buah karya Al-Kindi.
Ajaran Filsafatnya menurut Al-Kindi, filsafat hendaknya diterima sebagai bagian dari kebudayaan islam. Gagasan Al-Kindi mengenai Filsafat berasal dari Aristotelianisme Neo-Platonis, namun juga benar ia mengatakan gagasan itu dalam konteks baru dengan mendamaikan warisan Hellenistis dengan islam.
Seselarasan filsafat dan agama, Al-Kindi mengarahkan Filsafat muslim kearah kesesuaian antara filsafat dan agama. Filsafat berlandaskan akal pikiran sedangkan agama berdasarkan wahyu. Logika merupakan metode filsafat sedangimana merupakan kepercayaan kepada hakikat yang disebutdalam  Al-Qur’an sebagaimana diwahyukan Allah kepada Nabi-Nya.
Keselarasan antara filsafat dan agama didasarkan pada tiga alasan :
1.     Ilmu agama merupakan bagian dari filsafat
2.     Wahyu yang diturunkan kepada nabi dan kebenaran filsafat saling bersesuaian
3.     Menuntut ilmu, secara logika diperintahkan dalam agama
Kesimpulannya Al-Kindi adalah Filosof pertama dalam islam, yang menyelaraskan antara agama dan filsafat. Ia memberikan dua pandangan yang berbeda. Pertama, mengikuti jalur ahli logika dan memilsafatkan agama. Kedua, memandang agama sebagai sebuah ilmu ilaihiah dan menempatkannya di atas filsafat. Ilmu Ilahia ini diketahui melalui jalur para nabi. Tetapi melalui penapsiran filosofis, agama menjadi selaras denganfi lsafat.
Suatu pengetahuan memadai dan meyakinkan tentang Tuhan merupakan tujuan akhir filsafat ketunggalan, ketakterbagian, dan menyebabkan beban gerak merupakan sifat-sifatnya yang dinyatakan oleh Theon. Ketika Al-Kindi menyebutkan itu, ia tidak lebih dari pengalih konsepsi Hellenistis tentang Tuhan. Keaslian Al-Kindi terletak pada  upayanya mendamaikan konsep islam tentang Tuhan dengan gagasan filosofis Neo-Platonis terkemudian. Gagasan dasar tentang Tuhan adalah Keesaan-Nya, penciptaan olehnya dari ketergantungan semua penciptaan kepadanya. Sifat-sifat ini dalam Al-Qur’an dinyatakan secara tak filosofi satau dialektis.
Alam dalam system Aristoreles, terbatas dari ruang tetapi takterbatas oleh waktu, karena gerakan alam seabadi penggerak tak tergerakkan. Keabadian alam dalam pemikiran islam, ditolak, karena islam berpendirian bahwa alam diciptakan.

C.    Al-faraby
Abu Nashr Muhammad ibn Tasrkhanibn Al-Uzalagh Al-faraby lahir di Wasij di Distrikf Arab (yang juga dikenal dengan nama Utar) di Transoxiana, sekitar tahun 870 M dan wafat di Damaskus pada tahun 950 M. Ayahnya adalah seorang opsirtentara keturunan Persia ( kendati pun nama kakek dan kakek buyutnya jelas menunjukkan mama turki yang mengabdi kepada pangeran-pangeran Dinasati Samaniyah. Barang kali masuknya keluarga ini kedalam islam terjadi pada masa hidup kakeknya, Tarkhan. Peristiwa ini kira-kira terjadi persamaan dengan peristiwa penaklukan atas Farab oleh dinastismania pada 839-840 M.
Pendidikan Al-Farabi belajar ilmu-ilmu islam di Bukhara pada masa khalifaan Al-Mu’tadid (892-902 M), baik Yuhanna Ibn Hailan maupun Al-Farabi pergi ke Baghdad. Sumbangsinya dalam penempaan sebuah bahasa filsafat, baru dalam bahas arab. Meskipun menyadari perbedaan antara tata bahasaYanani dan arab.
Karya-karyanyatadari Al-Farabiadalah :
1.     AL-Jami’uBainaRa’ya Al-hakimain Al-FalatoniAl-HahiywaAristho-thails (pertemuanataupenggabunganpendapatantaraPlato danAristoteles).
2.     Tahsilu as Sa’adah (mencarikebahagiaan)
3.     As Suyasatu Al Madinah (politikpemerintahan)
4.     Fususu Al Taram (hakekatkebenaran)
5.     Arroo’uAhli Al madinah  Al Fadilah (pemekiran-pemikiranutamapemerintahan)
6.     As Syiyasyah (ilmupolitik)
7.     Fi Ma’ani Al Aqli
8.     Ihsho ‘u Al ulum (kumpulanberbagaiilmu)
9.     At Tangibuala As Sa’adah.
10.  Isabetu Al Mufaraqaa

D.    IBNU TAIYMIYAH
Abul Abbas Taqiuddin Ahmad bin Abdus Salam bin Abdullah bin Taimiyah al Harrani  atau yang biasa disebut dengan nama Ibnu Taimiyah saja (lahir: 22 Januari 1263/10 Rabiul Awwal 661 H – wafat: 1328/20 Dzulhijjah 728 H), adalah seorang pemikir dan ulama Islam dari Harran, Turki
Ibnu Taymiyyah berpendapat bahwa tiga generasi awal Islam, yaitu Rasulullah Muhammad SAW dan Sahabat Nabi, kemudian Tabi'in yaitu generasi yang mengenal langsung para Sahabat Nabi, dan Tabi'ut tabi'in yaitu generasi yang mengenal langsung para Tabi'in, adalah contoh yang terbaik untuk kehidupan Islam.
Ia berasal dari keluarga religius. Ayahnya Syihabuddin bin Taimiyah adalah seorang syaikh, hakim, dan khatib. Kakeknya Majduddin Abul Birkan Abdussalam bin Abdullah bin Taimiyah al Harrani adalah seorang ulama yang menguasai fiqih, hadits, tafsir, ilmu ushul dan penghafal Al Qur'an (hafidz). Ibnu Taimiyah lahir di zaman ketika Baghdad merupakan pusat kekuasaan dan budaya Islam pada masa Dinasti Abbasiyah. Ketika berusia enam tahun (tahun 1268), Ibnu Taimiyah dibawa ayahnya ke Damaskus disebabkan serbuan tentara Mongol atas Irak.
Semenjak kecil sudah terlihat tanda-tanda kecerdasannya. Begitu tiba di Damaskus, ia segera menghafalkan Al-Qur’an dan mencari berbagai cabang ilmu pada para ulama, hafizh dan ahli hadits negeri itu. Kecerdasan serta kekuatan otaknya membuat para tokoh ulama tersebut tercengang. Ketika umurnya belum mencapai belasan tahun, ia sudah menguasai ilmu ushuluddin dan mendalami bidang-bidang tafsir, hadits, dan bahasa Arab. Ia telah mengkaji Musnad Imam Ahmad sampai beberapa kali, kemudian Kutubu Sittah dan Mu’jam At-Thabarani Al-Kabir. Suatu kali ketika ia masih kanak-kanak, pernah ada seorang ulama besar dari Aleppo, Suriah yang sengaja datang ke Damaskus khusus untuk melihat Ibnu Taimiyah yang kecerdasannya menjadi buah bibir. Setelah bertemu, ia memberikan tes dengan cara menyampaikan belasan matan hadits sekaligus. Ternyata Ibnu Taimiyah mampu menghafalkannya secara cepat dan tepat. Begitu pula ketika disampaikan kepadanya beberapa sanad, iapun dengan tepat pula mampu mengucapkan ulang dan menghafalnya, sehingga ulama tersebut berkata: "Jika anak ini hidup, niscaya ia kelak mempunyai kedudukan besar, sebab belum pernah ada seorang bocah sepertinya".
Sejak kecil ia hidup dan dibesarkan di tengah-tengah para ulama sehingga mempunyai kesempatan untuk membaca sepuas-puasnya kitab-kitab yang bermanfaat. Ia menggunakan seluruh waktunya untuk belajar dan belajar dan menggali ilmu, terutama tentang Al-Qur'an dan Sunnah Nabi.
Ia adalah orang yang keras pendiriannya dan teguh berpijak pada garis-garis yang telah ditentukan Allah, mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ia pernah berkata: ”Jika dibenakku sedang berfikir suatu masalah, sedangkan hal itu merupakan masalah yang muskil bagiku, maka aku akan beristighfar seribu kali atau lebih atau kurang. Sampai dadaku menjadi lapang dan masalah itu terpecahkan. Hal itu aku lakukan baik di pasar, di masjid atau di madrasah. Semuanya tidak menghalangiku untuk berdzikir dan beristighfar hingga terpenuhi cita-citaku.”
Sangat luar biasa, tidak hanya di lapangan ahli ilmu pengetahuan saja ia terkenal, ia juga pernah memimpin sebuah pasukan untuk melawan pasukan Mongol di Syakhab, dekat kota Damaskus, pada tahun 1299 Masehi dan beliau mendapat kemenangan yang gemilang. Pada Februari 1313, beliau juga bertempur di kota Jerussalem dan mendapat kemenangan. Dan sesudah karirnya itu, beliau tetap mengajar sebagai profesor yang ulung [1]
Di Damaskus ia belajar pada banyak guru, dan memperoleh berbagai macam ilmu diantaranya ilmu hitung (matematika), khat (ilmu tulis menulis Arab), nahwu, ushul fiqih. Ia dikaruniai kemampuan mudah hafal dan sukar lupa. Hingga dalam usia muda, ia telah hafal Al-Qur'an. Kemampuannya dalam menuntut ilmu mulai terlihat pada usia 17 tahun. Dan usia 19, ia telah memberi fatwa dalam masalah masalah keagamaan.
Ibnu Taymiyyah amat menguasai ilmu rijalul hadits (perawi hadits) yang berguna dalam menelusuri Hadits dari periwayat atau pembawanya dan Fununul hadits (macam-macam hadits) baik yang lemah, cacat atau shahih. Ia memahami semua hadits yang termuat dalam Kutubus Sittah dan Al-Musnad. Dalam mengemukakan ayat-ayat sebagai hujjah atau dalil, ia memiliki kehebatan yang luar biasa, sehingga mampu mengemukakan kesalahan dan kelemahan para mufassir atau ahli tafsir. Tiap malam ia menulis tafsir, fiqh, ilmu 'ushul sambil mengomentari para filusuf . Sehari semalam ia mampu menulis empat buah kurrosah (buku kecil) yang memuat berbagai pendapatnya dalam bidang syari'ah. Ibnul Wardi menuturkan dalam Tarikh Ibnul Wardi bahwa karangannya mencapai lima ratus judul. Karya-karyanya yang terkenal adalah Majmu' Fatawa yang berisi masalah fatwa fatwa dalam agama Islam

  
BAB III
PENUTUP

       A.    Kesimpulan
Filsafat berasal dari bahasa yunani yang telah diarahkan, kata ini berasal dari dua kata “philos” dan “shopia” yang berarti pecinta pengetahuan, konon yang pertama kali menggunakan kata “philoshop” adalah Socrates (dan masih konon juga). Fisafat yang umun digunakan ada tiga yaitu filsafat yunani kuno (Ancient Philosophy), filsafat abad tengah (Middle Ages Philosophy), dan filsafat modern (Modern Philosophy).
Orang yang mula-mula sekali menggunakan akal secara serius adalah orang yunani yang bernama Thales (kira-kira Tahun 624-546 SM) orang inilah di gelari bapak filsafat.Jika munculnya Socrates dapat di anggap sebagai reaksi terhadap akal yang terlalu mendominasi manusia
Tokoh-tokoh filsafat pasca modern cukup banyak yaitu seluruh tokoh filsafat dekonstruksi seperti Arkoun, Derrida, Foucault, wittgenstien.
B.    Saran
Dengan penulisan makalah ini diharapkan kepada seluruh pembaca agar lebih bersemangat Dan lebih mendalami mata kuliah filsafat umum.

  

DAFTAR PUSTAKA

Prof.Dr. Ahmad Tafsir.2003. filsafat umum. Bandung : PT. REMAJA RODASKARYA.
Asmoro Achmadi.2008. Filsafat Umum. Jakarta : PT. RAJA GRAFINDO PERSADA

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar