Minggu, 04 November 2012

Riwayat Hidup dan Konsep Pendidikan Islam K.H. Hasayim Asy'ari


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Posisi manusia sebagai homo educandum (makhluk yang dapat didik), homo education (makhluk pendidik), dan homo religious (makhluk beragama) mengindikasikan bahwa perilaku keberagamaan manusia, dapat diarahkan melalui pendidikan. Pendidikan yang dimaksud di sini adalah pendidikan Islam, yakni dengan cara membimbing dan mengasuhnya agar dapat memahami, menghayati ajaran-ajaran Islam, sehingga tampak perilaku keberagamaan secara simultan dan terarah pada tujuan hidup manusia. Pendidikan Islam merupakan pendidikan yang sangat ideal,[1] karena menyelaraskan antara pertumbuhan fisik dan mental, jasmani dan rohani, pengembangan individu dan masyarakat, serta dunia dan akhirat.
Menanamkan perilaku keberagamaan terhadap peserta didik diharapkan memberikan pengaruh bagi pembentukan jiwa keagamaan. Besar kecil pengaruh yang dimaksud sangat tergantung berbagai faktor yang dapat memotivasi untuk memahami nilai-nilai agama, sebab pendidikan agama pada hakekatnya merupakan pendidikan nilai. Oleh karena itu, pendidikan agama lebih dititik beratkan pada bagaimana membentuk kebiasaan yang selaras dengan tuntunan agama.[2]
Disinilah letak pentingnya rumusan kurikulum yang mampu mengakomodir dan terjewantahkan ke seluruh dimensi ranah pembelajaran di sekolah (madrasah). Letak permasalahan selanjutnya adalah kurikulum Pendidikan Islam yang selama ini diterapkan belum mampu secara maksimal menjadi tolok ukur utama keberhasilan pendidikan secara simultan.
Sistem pendidikan Islam memiliki keunikan tersendiri, akibat adanya aturan-aturan nilai yang terkadang dianggap menyimpang dari pemenuhan nilai-nilai pendidikan Islami. Salah satu yang urgen dikaji bahwa pendidikan berlaku kepada seluruh manusia, tidak mengenal adanya perbedaan streotipe jenis kelamin. Namun terdapat pandangan berbeda dalam kesamaan pria dan wanita dalam sistem pemerolehan pendidikan dengan memandang sisi posistif dan negatifnya.
Kaitannya dengan komponen kurikulum dan sistem koedukasi di atas, maka tujuan pendidikan Islam melalui sistem persekolahan/madrasah patut diberikan penekanan yang istimewa. Hal ini disebabkan oleh pendidikan sekolah/madrasah mempunyai program yang teratur, bertingkat dan mengikuti syarat yang jelas dan ketat. Hal ini mendukung program pendidikan Islam yang lebih akomodatif, transformatif dan relevan dengan tujuan pendidikan Islam. Para tokoh pembaharu dan pemikir Pendidikan Islam menanggapi tentang kurikulum dan koedukasi pendidikan dengan beragam pandanganK. H. M. Hasyim Asy’ari adalah soso pemikir Pendidikan Islam yang memiliki pandangan signifikan tentang obyek kajian pendidikan ini.

B.    Rumusan Masalah
1.     Bagaimana Biografi K. H. M. Hasyim Asy’ari ?
2.     Sebutkan karya pemikiran pendidikan islam dan bagaimana konsep pemikiran pendidikan Islam K. H. M. Hasyim Asy’ari ?
  
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Riwayat Hidup K. H. M. Hasyim Asy’ari
Nama lengkap K. H. M. Hasyim Asy’ari adalah Muhammad K. H. M. Hasyim Asy’ari ibn ‘Abd Al-Wahid. Ia lahir di Gedang, sebuah desa di daerah Jombang, Jawa Timur, pada hari selasa kliwon 24 Dzu Al-Qa’idah 1287 H. bertepatan dengan tanggal 14 Februari 1871.[3]
Asal-usul dan keturunan K. H. M. Hasyim Asy’ari tidak dapat dipisahkan dari riwayat kerajaan Majapahit dan kerajaan Islam Demak. Salasilah keturunannya, sebagaimana diterangkan oleh K. H. A.Wahab Hasbullah menunjukkan bahawa leluhurnya yang tertinggi ialah neneknya yang kedua iaitu Brawijaya VI. Ada yang mengatakan bahawa Brawijaya VI adalah Kartawijaya atau Damarwulan dari perkahwinannya dengan Puteri Champa lahirlah Lembu Peteng (Brawijaya VII).[4]
 Menurut penuturan ibunya, tanda kecerdasan dan ketokohan K. H. M. Hasyim Asy’ari sudah tampak saat ia masih berada dalam kandungan. Di samping masa kandung yang lebih lama dari umumnya kandungan, ibunya juga pernah bermimpi melihat bulan jatuh dari langit ke dalam kandungannya. Mimpi tersebut kiranya bukanlah isapan jempol dan kembang tidur belaka, sebab ternyata tercatat dalam sejarah, bahwa pada usianya yang masih sangat muda, 13 tahun, K. H. M. Hasyim Asy’ari sudah berani menjadi guru pengganti (badal) di pesantren untuk mengajar santri-santri yang tidak jarang lebih tua dari umurnya sendiri.[5]
Bakat kepemimpinan Kiai Hasyim sudah tampak sejak masa kanak-kanak. Ketika bermain dengan teman-teman sebayanya, Hasyim kecil selalu menjadi penengah. Jika melihat temannya melanggar aturan permainan, ia akan menegurnya. Dia membuat temannya senang bermain, karena sifatnya yang suka menolong dan melindungi sesama.[6]
Semasa hidupnya, ia mendapatkan pendidikan dari ayahnya sendiri, terutama pendidikan di bidang ilmu-ilmu Al-Qur’an dan literatur agama lainnya. Setelah itu, ia menjelajah menuntut ilmu ke berbagai pondok pesantren, terutama di Jawa, yang meliputi Shone, Siwilan Buduran, Langitan Tuban, Demangan Bangkalan, dan Sidoarjo, ternyata K. H. M. Hasyim Asy’ari merasa terkesan untuk terus melanjutkan studinya. Ia berguru kepada K. H. Ya’kub yang merupaka kiai di pesantren tersebut. Kiai Ya’kub lambat laun merasakan kebaikan dan ketulusan K. H. M. Hasyim Asy’ari dalam perilaku kesehariannya, sehingga kemudian ia menjodohkannya dengan putrinya, Khadijah. Tepat pada usia 21 tahun, tahun 1892, K. H. M. Hasyim Asy’ari melangsungkan pernikahan dengan putri K. H. Ya’kub tersebut.
Setelah nikah, K. H. M. Hasyim Asy’ari bersama istrinya segera melakukan ibadah haji. Sekembalinya dari tanah suci, mertua K. H. M. Hasyim Asy’ari menganjurkannya menuntut ilmu di Mekkah. Dimungkinkan, hal ini didorong oleh tradisi pada saat itu bahwa seorang ulama belumlah dikatakan cukup ilmunya jika belum mengaji di Mekkah selama bertahun-tahun. Di tempat itu, K. H. M. Hasyim Asy’ari mempelajari berbagai macam disiplin ilmu, diantaranya adalah ilmu fiqh Syafi’iyah dan ilmu Hadits, terutama literatur Shahih Bukhari dan Muslim.
Disaat K. H. M. Hasyim Asy’ari bersemangat belajar, tepatnya ketika telah menetap 7 bulan di Mekkah, istrinya meninggal dunia pada waktu melahirkan anaknya yang pertama sehingga bayinya pun tidak terselamatkan. Walaupun demikian, hal ini tidak mematahkan semangat belajarnya untuk menuntut ilmu. K. H. M. Hasyim Asy’ari semasa tinggal di Mekkah berguru kepada Syekh Ahmad Amin Al-Athar, Sayyid Sultan ibn Hasyim, Sayyid Ahmad ibn Hasan Al-Athar, Syekh Sayyid Yamani, Sayyid Alawi ibn Ahmad As-Saqqaf, Sayyid Abbas Maliki, Sayid ‘Abd Allah Al-Zawawi. Syekh Shaleh Bafadhal, dan Syekh Sultan Hasyim Dagastani.
Ia tinggal di Mekkah selama 7 tahun. Dan pada tahun 1900 M. atau 1314 H. K. H. M. Hasyim Asy’ari pulang ke kampung halamannya. Di tempat itu ia membuka pengajian keagamaan yang dalam waktu yang relatif singkat menjadi terkenal di wilayah Jawa.[7]
 Tanggal 31 Januari 1926, bersama dengan tokoh-tokoh Islam tradisional, K. H. M. Hasyim Asy’ari mendirikan Nahdlatul Ulama, yang berarti kebangkitan ulama. Organisasi ini pun berkembang dan banyak anggotanya. Pengaruh K. H. M. Hasyim Asy’ari pun semakin besar dengan mendirikan organisasi NU, bersama teman-temannya. Itu dibuktikan dengan dukungan dari ulama di Jawa Tengah dan Jawa Timur. K. H. M. Hasyim Asy’ari dikenal sebagai salah seorang pendiri NU (Nahdatul Ulama). Pada masa pendudukan Jepang, K. H. M. Hasyim Asy’ari pernah ditahan selama 6 bulan, karena dianggap menentang penjajahan Jepang di Indonesia. Karena tuduhan itu tidak terbukti, ia dibebaskan dari tahanan, atas jasa-jasanya dalam perjuangan melawan penjajah Belanda dan Jepang, K. H. M. Hasyim Asy’ari dianugerahi gelar pahlawan kemerdekaan nasional oleh Presiden RI. Pada tahun 1926 K. H. M. Hasyim Asy’ari mendirikan partai Nahdatul Ulama (NU). Sejak didirikan sampai tahun 1947 Rais ‘Am (ketua umum) dijabat oleh K. H. M. Hasyim Asy’ari. Ia pernah menjabat sebagai kepala Kantor Urusan Agama pada zaman pendudukan Jepang untuk wilayah Jawa dan Madura.
K. H. M. Hasyim Asy’ari wafat pada tahun 1947 di Tebuireng, Jombang Jawa Timur. Hampir seluruh waktunya diabdikan untuk kepentingan agama dan pendidikan.[8]

B.    Konsep Pemikiran Pendidikan Islam Menurut K. H. M. Hasyim Asy’ari
Salah satu karya yang sangat populer K. H. M Hasyim As’ari yang berbicara tentang pendidikan adalah kitab Adaabul al aalimi swa al muta’allimi fiiahwaali ta’allumi wamaa yatawaqqofu ‘alaihi al mu’allimu fii maqoomati al ta’limihi.  Untuk memahami pokok pikirannya dalam kitab tersebut perlu kita perhatikan latar belakang ditulisnya kitab tersebut. Penyusunan karya ini boleh jadi didorong oleh situasi pendidikan pada saat itu yang mulai mengalami perubahan yang pesat, dari kebiasaan lama yang bersifat tradisional yang sudah mapan kedalam bentuk baru akibat pengaruh dari pendidikan barat yang telah diterapkan di Indonesia.
Buku yang ditulisnya ini secara garis besar berisikan tentang, keutamaan ilmu dan keutamaan belajar, tentang etika yang diperhatikan dalam belajar dan mengajar, tentang etika murid kepada guru, tentang etika murid terhadap pelajaran dan ha-hal yang harus dipedomi, tentang etika yang harus dipedomani seorang guru, tentang etika guru ketika dan akan mengajar, tentang etika guru terhadap murid-muridnya.
Dalam kitab tersebut beliau merangkum pemikirannya tentang pendidikan Islam kedalam delapan poin, yaitu :
  1. Keutamaan ilmu dan keutamaan belajar mengajar
  2. Etika yang harus diperhatikan dalam belajar mengajar
  3. Etika seorang murid kepada guru
  4. Etika seorang murid terhadap pelajaran dan hal-hal yang harus dipedomi berasama guru
  5. Etika yang harus dipedomi seorang guru
  6. Etika guru ketika dan akan mengajar
  7. Etika guru terhadap murid-murid nya
  8. Etika terhadap buku, alat untuk memperoleh pelajaran dan hal-hal yang berkaitannya dengannya.[9]
Dari delapan pokok pemikiran di atas, K. H. M. Hasyim Asy’ari membaginya kembali kedalam tiga kelompok, yaitu :
  1. Signifikansi Pendidikan
  2. Tugas dan tanggung jawab seorang murid
  3. Tugas dan tanggung jawab seorang guru.[10]
Pada dasarnya, ketiga kelompok pemikiran tersebut adalah hasil integralisasi dari delapan pokok pendidikan yang dituangkan oleh K. H. M. Hasyim Asy’ari.
a.      Sigifikansi Pendidikan
Dalam membahas masalah ini, K. H. M. Hasyim Asy’ari mengorientasikan pendapatnya berdasarkan alwur’an dan Al-Hadits. Sebagai contohnya ialah beliau mengambil pemikiran pendidikan tentang keutamaan menuntut ilmu dan keutamaan bagi yang menuntut ilmu dari surat Al-Mujadilah ayat 11 yang kemudian beliau uraikan secara singkat dan jelas. Misalnya beliau menyebutkan bahwa keutamaan yang paling utama dalam menuntut ilmu adalah mengamalkan apa yang telah dituntut. Secara langsung beliau akan menjelaskan maksud dari perkataan itu, yaitu agar seseorang tidak melupakan ilmu yang telah dimilikinya dan bermanfaat bagi kehidupannya di akherat kelak.
K. H. M. Hasyim Asy’ari menyebutkan bahwa dalam menuntut ilmu harus memperhatikan dua hal pokok selain dari keimanan dan tauhid. Dua hal pokok tersebut adalah :
1.     Bagi seorang peserta didik hendaknya ia memiliki niat yang suci untuk menuntut ilmu, jangan sekali-kali berniat untuk hal-hal yang bersifat duniawi dan jangan melecehkan atau menyepelekannya
2.     Bagi guru dalam mengajarkan ilmu hendaknya meluruskan niatnya terlebih dahulu tidak semata-mata hanya mengharapkan materi, disamping itu hendaknya apa yang diajarkan sesuai dengan apa yang diperbuat.[11]
K. H. M. Hasyim Asy’ari juga menekankan bahwa belajar bukanlah semata-mata hanya untuk menghilangkan kebodohan, namun untuk mencari ridho Allah yang mengantarkan manusia untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akherat. Karna itu itu hendaknya belajar diniatkan untuk mengembangkan dan melestarikan nilai-nilai islam bukan hanya semata-mata menjadi alat penyebrangan untuk mendapatkan meteri yang berlimpah.
b.     Tugas dan Tanggung Jawab Murid
Murid sebagai peserta didik memiliki tugas dan tanggung jawab berupa etika dalam menuntut ilmu, yaitu :
1)     Etika  yang harus diperhatikan dalam belajar
Dalam hal ini K. H. M. Hasyim Asy’ari mengungkapkan ada sepuluh etika yang harus dipebuhi oleh peserta didik atau murid, yaitu :
1.     Membersihkan hati dari berbagai gangguan keimanan dan keduniawian
2.     Membersihkan niat
3.     Tidak menunda-nunda kesempatan belajar
4.     Bersabar dan qonaah terhadap segala macam pemberian dan cobaan
5.     Pandai mengatur waktu
6.     Menyederhanakan makan dan minum
7.     Bersikap hati-hati atau wara’
8.     Menghindari makanan dan minuman yang menyebabkan kemalasan yang pada akhirnya menimbulkan kebodohan
9.     Menyediakan waktu tidur selagi tidak merusak kesehatan
10.  Meninggalkan kurang faedah (hal-hal yang kurang berguna bagi perkembangan diri).[12] Dalam hal ini tidak dibenarkan ketika seorang yang menuntut ilmu hanya menekankan pada hal-hal yang bersifat rohaniah atau duniawiah saja, karena keduanya adalah penting.
2)     Etika Seorang Murid Terhadap Guru
Etika seorang murid murid kepada guru, sesuai yang dikatakan oleh K. H. M. Hasyim Asy’ari hendaknya harus memperhatikan sepuluh etika utama, yaitu :
1.     Hendaknya selalu memperhatikan dan mendengarkan apa yang dijelaskan atau dikatakan oleh guru
2.     Memilih guru yang wara’ artinya orang yang selalu berhati-hati dalam bertindak disamping profesionalisme
3.     Mengikuti jejak guru yang baik
4.     Bersabar terhadap kekerasan guru
5.     Berkunjung kepada guru pada tempatnya atau mintalah izin terlebih dahulu kalau harus memaksa keadaan pada bukan tempatnya
6.     Duduklah yang rapi dan sopan ketika berhadapan dengan guru
7.     Berbicaralah dengan sopan dan lemah lembut
8.     Dengarkan segala fatwanya
9.     Jangan sekali-kali menyela ketika sedang menjelaskan
10.  Dan gunakan anggota kanan bila menyerahkan sesuatu kepadanya.[13]
3)     Etika Murid Terhadap Pelajaran
Dalam menuntut ilmu murid hendaknya memperhatikan etika berikut :
1.     Memperhatikan ilmu yang bersifat fardhu ‘ain untuk dipelajari
2.     Harus mempelajari ilmu-ilmu yang mendukung ilmu-ilmu fardhu ‘ain
3.     Berhati-hati dalam menanggapi ikhtilaf para ulama
4.     Mendiskusikan atau menyetorkan apa yang telah ia pelajari pada orang yang dipercayainya
5.     Senantiasa menganalisa, menyimak dan meneliti ilmu
6.     Pancangkan cita-cita yang tinggi
7.     Bergaulah dengan orang berilmu lebih tinggi (intelektual)
8.     Ucapkan bila sampai ditempat majlis ta’lim (tempat belajar, sekolah, pesantren, dan lain-lain)
9.     Bila terdapat hal-hal yang belum diketahui hendaknya ditanyakan
10.  Bila kebetulan bersamaan banyak teman, jangan mendahului antrian bila tidak mendapatkan izin
11.  Kemanapun kita pergi kemanapun kita berada jangan lupa bawa catatan
12.  Pelajari pelajaran yang telah diajarkan dengan continue (istiqomah)
13.  Tanamkan rasa semangat dalam belajar.[14]
c.      Tugas dan Tanggung Jawab Guru
Dalam dunia pendidikan tidak hanya seorang murid yang memiliki tanggung jawab. Namun seorang guru juga memiliki tanggung jawab yang hampir serupa dengan murid, yaitu :
1)     Etika Seorang Guru
Seorang guru dalam menyampaikan ilmu pada peserta didik harus memiliki etika sebagai berikut :
1.     Selalu mendekatkan diri kepada Allah
2.     Senantiasa takut kepada Allah
3.     Senantiasa bersikap tenang
4.     Senantiasa berhati-hati
5.     Senantiasa tawadhu’ dan khusu’
6.     Mengadukan segala persoalannya kepada Allah SWT
7.     Tidak menggunakan ilmunya untuk keduniawian saja
8.     Tidak selalu memanjakan anak didik
9.     Berlaku zuhud dalam kehidupan dunia
10.  Menghindari berusaha dalam hal-hal yang rendah
11.  Menghindari tempat-tempat yang kotor atau maksiat
12.  Mengamalkan sunnah nabi
13.  Mengistiqomahkan membaca al-qur’an
14.  Bersikap ramah, ceria, dan suka menebarkan salam
15.  Membersihkan diri dari perbuatan yang tidak disukai Allah
16.  Menumbuhkan semangat untuk mengembangkan dan menambah ilmu pengetahuan
17.  Tidak menyalahgunakan ilmu dengan menyombongkannya
18.  Dan membiasakan diri menulis, mengarang dan meringkas.[15]
Dalam pembahasan ini ada satu hal yang sangat menarik, yaitu tentang poin yang terakhir guru harus rajin menulis, mengarang dan meringkas. Hal ini masih sangat jarang dijumpai, ini juga merupakan menjadi salah satu faktor mengapa masih sangat sulit dijumpai karya-karya ilmiah. Padahal dengan adanya guru yang selalu menulis, mengarang dan merangkum, ilmu yang dia miliki akan terabadikan.
2)     Etika Guru dalam mengajar
Seorang guru ketika mengajar dan hendak mengajar hendaknya memperhatikan etika-etika berikut :
1.     Mensucikan diri dari hadats dan kotoran
2.     Berpakaian yang sopan dan rapi serta berusaha berbau wewangian
3.     Berniat beribadah ketika dalam mengajarkan ilmu
4.     Menyampaikan hal-hal yang diajarkan oleh Allah (walaupun hanya sedikit)
5.     Membiasakan membaca untuk menambah ilmu pengetahuan
6.     Memberikan salam ketika masuk kedalam kelas
7.     Sebelum belajar berdo’alah untuk para ahli ilmu yang telah terlebih dahulu meninggalkan kita
8.     Berpenampilan yang kalem dan menghindarkan hal-hal yang tidak pantas dipandang mata
9.     Menghindarkan diri dari gurauan dan banyak tertawa
10.  Jangan sekali-kali mengajar dalam kondisi lapar, makan, marah, mengantuk, dan lain sebagainya
11.  Hendaknya mengambil tempat duduk yang strategis
12.  Usahakan berpenampilan ramah, tegas, lugas dan tidak sombong
13.  Dalam mengajar hendaknya mendahulukan materi yang penting dan disesuaikan dengan profesionalisme yang dimiliki
14.  Jangan mengajarkan hal-hal yang bersifat subhat yang dapat menyesatkan
15.  Perhatikan msing-masing kemampuan murid dalam meperhatikan dan jangan mengajar terlalu lama
16.  Menciptakan ketengan dalam belajar
17.  Menegur dengan lemah lembut dan baik ketika terdapat murid yang bandel
18.  Bersikap terbuka dengan berbagai persoalan yang ditemukan
19.  Berilah kesempatan pada murid yang datang terlambat dan ulangilah penjelasannya agar mudah dipahami apa yang dimaksud
20.  Dan apabila sudah selesai berilah kesempatan kepada anak didik untuk menanyakan hal-hal yang belum dimengerti.[16]
Dari pemikiran yang ditawarkan oleh K. H. M. Hasyim Asy’ari tersebut, terlihatlah bahwa pemikirannya tentang etika guru dalam mengajar ini sesuai dengan apa yang beliau dan kita alami selama ini. Hal ini mengindikasikan bahwa apa yang beliau fikirkan adalah bersifat fragmatis atau berdasarkan pengalaman. Sehingga hal inilah yang memberikan nilai tambah begi pemikirannya.
3)     Etika Guru Bersama Murid
Guru dan murid pada dasarnya memiliki tanggung jawab yang berbeda, namun terkadang seorang guru dan murid mempunyai tanggung jawab yang sama, diantara etika tersebut adalah :
1.     Berniat mendidik dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta menghidupkan syari’at islam
2.     Menghindari ketidak ikhlasan dan mengejar keduniawian
3.     Hendaknya selalu melakukan instropeksi diri
4.     Menggunakan metode yang sudah dipahami murid
5.     Membangkitkan semangat murid dengan memotivasinya, begitu murid yang satu dengan yang lain
6.     Memberikan latihan – latihan yang bersifat membantu
7.     Selalu memperhatikan kemapuan peserta didik yang lain
8.     Bersikap terbuka dan lapang dada
9.     Membantu memecahkan masalah dan kesulitan peserta didik
10.  Tunjukkan sikap yang arif dan tawadhu’ kepada peserta didik yang satu dengan yang lain.
Bila sebelumnya seorang murid dengan guru memiliki tugas dan tanggung jawab yang berbeda, maka setelah kita telaah kembali, ternyata seorang guru dan murid juga memiliki tugas yang serupa seperti tersebut di atas. Ini mengindikasikan bahwa pemikiran K. H. M. Hasyim Asy’ari tidak hanya tertuju pada perbedaan-perbedaan yang dimiliki oleh peserta didik dan guru, namun juga keasamaan yang dimiliki dan yang harus dijalani. Hal ini pulalah yang memberikan indikasi nilai utama yang lebih pada hasil pemikirannya.
  
BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dari pemaparan di atas, dapatlah diketahui bahwa ketokohan K. H. M. Hasyim Asy’ari dikalangan masyarakat dan organisasi Islam tradisional bukan saja sangat sentral tetapi juga menjadi tipe utama seorang pemimpin, sebagaimana diketahui dalam sejarah pendidikan tradisional, khususnya di Jawa. Peranan K. H. M. Hasyim Asy’ari yang kemudian dikenal dengan sebutan Hadrat Asy-Syaikh (guru besar di lingkungan pesantren).
Salah satu karya yang sangat populer K. H. M Hasyim As’ari yang berbicara tentang pendidikan adalah kitab Adaabul al aalimi swa al muta’allimi fiiahwaali ta’allumi wamaa yatawaqqofu ‘alaihi al mu’allimu fii maqoomati al ta’limihi
Dalam kitab tersebut beliau merangkum pemikirannya tentang pendidikan Islam kedalam delapan poin, yaitu :
1.     Keutamaan ilmu dan keutamaan belajar mengajar
  1. Etika yang harus diperhatikan dalam belajar mengajar
  2. Etika seorang murid kepada guru
  3. Etika seorang murid terhadap pelajaran dan hal-hal yang harus dipedomi berasama guru
  4. Etika yang harus dipedomi seorang guru
  5. Etika guru ketika dan akan mengajar
  6. Etika guru terhadap murid-murid nya
  7. Etika terhadap buku, alat untuk memperoleh pelajaran dan hal-hal yang berkaitannya dengannya.
Dari delapan pokok pemikiran di atas, K. H. M. Hasyim Asy’ari membaginya kembali kedalam tiga kelompok, yaitu :
  1. Signifikansi Pendidikan
  2. Tugas dan tanggung jawab seorang murid
  3. Tugas dan tanggung jawab seorang guru
Peranan K. H. M. Hasyim Asy’ari sangat besar dalam pembentukan kader-kader ulama pemimpin pesantren, terutama yang berkembang di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Dalam bidang organisasi keagamaan, ia pun aktif mengoganisir perjuangan politik melawan kolonial untuk menggerakkan masa, dalam upaya menentang dominasi politik Belanda.
Dan pada tanggal 7 September 1947 (1367 H), K. H. Hasyim Asy’ari, yang bergelar Hadrat Asy-Syaikh wafat. Berdasarkan keputusan Presiden No. 29/1964, ia diakui sebagai seorang pahlawan kemerdekaan nasional, suatu bukti bahwa ia bukan saja tokoh utama agama, tetapi juga sebagai tokoh nasional.

B.    Saran
Dalam penulisan makalah ini kami pemakalah mengakui dan sadar akan keterbatasan kami dalam menyajikan makalah ini, untuk itu kami mohon bimbingan dari dosen untuk meluruskan makalah ini untuk menambah wawasan kami sebagai pemakalah agar dapat memperbaiki diri dalam mengerjakan tugas makalah dikemudian hari.

DAFTAR PUSTAKA

Al- Abrasyi, Athiya, Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam, Jakarta, Bulan Bintang, 1984.
http habibah-kolis.blogspot.com200801hasyim-asyari.
html Ensiklopedia Islam, Departemen Agama, Jakarta 1993.
DR.H. Samsul Rizal, M.A. Filsafat Pendidikan Islam. Ciputat Pers. Jakarta. 2002
Amril M. 2002. Etika Islam Telaah Pemikiran Filsafat Moral Raghib Al-Isfahani. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Ensiklopedia Islam, Departemen Agama, Jakarta 1993


[1] Hasan Langgulung, Pendidikan dan Peradaban Islam; Suatu Analisa Sosio-Psikologi, (Jakarta, Pustaka Al-Husna, 1985,), h. 3
[2] Jalaluddin, Psikologi Agama (Cet.I; Jakarta:  Grafindo Persada, 1996), h. 206
[3] A. Mujib, Dkk. Entelektualisme Pesantren, PT. Diva Pustaka. Jakarta. 2004 h. 319
[4] httpwapedia.mobimsHasyim_Asy%27ari.htm
[5] httphabibah-kolis.blogspot.com200801hasyim-asyari.html
[6] httppesantren.tebuireng.netindex.phppilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=30.htm
[7] A. Mujib, Dkk, Op Cit. h. 319-320
[8] Ensiklopedia Islam, Departemen Agama, Jakarta 1993. h. 138-139
[9] DR.H. Samsul Rizal, M.A. Filsafat Pendidikan Islam. Ciputat Pers. Jakarta. 2002.Halaman 155
[10] Ibid. Halaman 156
[11] Cop.cit. Halaman 157
[12] Cop.Cit. Halaman 157
[13] Cop.Cit.Halaman 158
[14] Cob.Cit. Halaman 159
[15] Cop.Cit. Halaman 161
[16] Cop.Cit. Halaman 167 – 168

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar