Minggu, 04 November 2012

Perkembangan Belajar


PERKEMBANGAN BELAJAR

KATA PENGANTAR


Assalamu Alaikum Wr. Wb
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala nikmat yang telah diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya Penulis mengucapkan terima kasih kepada :
a.      Drs. Abd. Salam selaku dosen mata kuliah Psiologi Pendidikan yang telah memberikan ilmu kepada kami semua.
b.     Rekan-rekan mahasiswa seperjuangan yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu yang sudah sangat membantu dalam terselesaikannya makalah ini
c.      Semua pihak yang secara langsung maupun tidak langsung juga membantu dalam pembuatan makalah ini
Harapan kami semoga dengan adanya pembuatan makalah ini dapat membuat bakat dan kreativitas kita sebagai calon guru dalam bidang tulis menulis semakin bertambah
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh sempurna, untuk itu kami harapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca agar menjadi lebih baik dimasa yang akan datang.
Apabila terjadi kesalahan dalam penulisan makalah ini kami mohon maaf yang setulus-tulusnya.

Pangkajene, 8  Maret 2012

                          Penyusun
  

DAFTAR ISI

Hal
Halaman Judul
Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB I PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
B.     Rumusan Masalah
BAB II PEMBAHASAN
A.     Pengertian Perkembangan
B.     Pengertian Belajar
C.     Persoalan-Persoalan Pokok Dalam Belajar
D.     Prinsip-Prinsip Belajar
E.     Macam-Macam Motivasi Belajar
F.     Macam-macam Teori Belajar
BAB III PENUTUP
A.     Kesimpulan
B.     Saran.

Daftar Pustaka

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Belajar merupakan perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau latihan yang di perkuat. Dalam lingkup sekolah, belajar itu penting untuk meraih prestasi. Untuk itu, diperlukan tips-tips untuk meningkatkan motivasi belajar dan manajemen waktu. Mengingat banyaknya pelajar khususnya tingkat SMK / SMA yang sering mengalami kegagalan dalam meraih prestasi dan cenderung tidak dapat memanajemen waktu dengan baik.  Motivasi belajar merupakan hal-hal yang dapat mendorong seseorang untuk belajar. Motivasi belajar akan terbentuk apabila orang tersebut mempunyai keinginan, cita-cita atau menyadari manfaat belajar untuk dirinya sendiri. Oleh karena itu, dibutuhkan pengkondisian tertentu agar diri kita atau siapapun menginginkan semangat untuk belajar. Dengan demikian, diharapkan melalui makalah ”Perkembangan Belajar” ini Anda mendapatkan wawasan yang lebih seputar belajar, baik bagaimana cara belajar yang menyenangkan, maupun cara memanajemen waktu supaya dapat meningkatkan prestasi.
B.    Rumusan Masalah
1.     Apa yang dimaksud dengan perkembangan dan belajar ?
2.     Sebutkan proses perkembangan belajar individu ?
3.     Persoalan apa saja yang sering terjadi dalam belajar ?
4.     Sebutkan teori dalam pekembangan belajar ?


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Perkembangan
Perubahan merupakan hal yang melekat dalam perkembangan. E.B. Hurlock (Istiwidayanti dan Soejarwo, 1991) mengemukakan bahwa perkembangan atau development merupakan serangkaian perubahan progresif yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman. Ini berarti, perkembangan terdiri atas serangkaian perubahan yang bersifat progresif (maju), baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Perubahan kualitatif disebut juga ”pertumbuhan” merupakan buah dari perubahan aspek fisik seperti penambahan tinggi, berat dan proporsi badan seseorang. Perubahan kuantitatif meliputi peubahan aspek psikofisik, seperti peningkatan kemampuan berpikir, berbahasa, perubahan emosi dan sikap, dll. Selain perubahan ke arah penambahan atau peningkatan, ada juga yang mengalami pengurangan seperti gejala lupa dan pikun. Jadi perkembangan bersifat dinamis dan tidak pernah statis.
Terjadinya dinamika dalam perkembangan disebabkan adanya ”kematangan dan pengalaman” yang mendorong seseorang untuk memenuhi kebutuhan aktualisasi/realisasi diri. Kematangan merupakan faktor internal (dari dalam) yang dibawa setiap individu sejak lahir, seperti ciri khas, sifat, potensi dan bakat. Pengalaman merupakan intervensi faktor eksternal (dari luar) terutama lingkungan sosial budaya di sekitar individu. Kedua faktor (kematangan dan pengalaman) ini secara stimultan mempengaruhi perkembangan seseorang. Seseorang anak yang memiliki bakat musik dan didukung oleh pengalaman dalam lingkungan keluarga yang mendukung perkembangan bakatnya seperti menyediakan dan memberi les musik, akan berkembang terus menerus sepanjang hayat memungkinkan manusia menyesuaikan diri dengan lingkungan di mana manusia hidup. Sikap manusia terhadap perubahan berbeda-beda tergantung beberapa faktor, diantaranya pengalaman pribadi, streotipe dan nilai-nilai budaya, perubahan peran, serta penampilan dan perilaku seseorang.
Perkembangan sebagai Proses Holistik dari aspek biologis, kognitif, dan psikososial. Sesuai dengan konsep anak sebagai suati totalitas atau sebagai individu, perkembangan juga merupakan suatu proses yang sifatnya menyeluruh (holistik). Artinya perkembangan terjadi tidak hanya dalam aspek tertentu, melainkan melibatkan keseluruhan aspek yang saling terjalin satu sama lain. Secara garis besar, proses perkembangan individu dapat dikelompokkan ke dalam 3 domain, yaitu :
a.      Proses Biologis
b.     Proses Kognitif
c.      Proses Psikososial
Proses ini melibatkan perubahan-perubahan dalam aspek perasaan, emosi dan kepribadian individu serta cara yang bersangkutan berhubungan dengan orang lain.
Aspek-aspek tersebut saling berkaitan dan mempengaruhi satu sama lain. Misalnya saja jika seorang anak mengalami gangguan pendengaran maka dia dapat mengalami keterlambatan dalam perkembangan bahasa dikarenakan tidak adanya kata-kata yang dapat masuk dan dicerna di otaknya
B.    Pengertian Belajar
Cukup banyak para ahli yang merumuskan pengertian belajar. Slamento (1995) merumuskan belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh perubahan tingkahlaku secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya. Sementara Winkel (1989) mendefinisikan belajar sebagai suatu proses kegiatan mental pada diri seseorang yang berlangsung dalam interaksi aktif individu dengan lingkungannya. Sehingga menghasilkan perubahan yang relatif menetap/ bertahan dalam kemampuan ranah kognitif, afektif, maupun psikomotorik, yang diperoleh melalui interaksi individu dengan lingkungannya. Perubahan perilaku sebagai hasil belajar terjadi secara sadar, bersifat kontinu, relatif menetap, dan mempunyai tujuan terarah pada kemajuan yang progresif.
Belajar abad 21, seperti yang dikemukakan Delors (Unesco, 1996), didasarkan pada konsep belajar sepanjang hayat (life long learning) dan belajar begaimana belajar (learning how to learn). Konsep ini bertumpu pada empat pilar pembelajaran yaitu : (1) learning to know (belajar mengetahui) dengan memadukan pengetahuan umum yang cukup luas dengan kesempatan untuk bekerja melalui kemampuan belajar bagaimana caranya belajar sehingga diperoleh keuntungan dari peluang-peluang pendidikan sepanjang hayat yang tersedia; (2) learning to do (belajar berbuat) bukan hanya untuk memperoleh suatu keterampilan kerja tetapi juga untuk mendapatkan kompetensi berkenaan dengan bekerja dalam kelompok dan berbagai kondisi sosial yang informal; (3) learning to be (belajar menjadi dirinya) dengan lebih menyadari kekuatan dan keterbatasan dirinya, dan terus menerus mengembangkan kepribadiannya menjadi lebih baik dan mampu bertindak mandiri, dan membuat pertimbangan berdasarkan tanggung jawab pribadi; (4) learning to live together (belajar hidup bersama) dengan cara mengembangkan pengertian dan kemampuan untuk dapat hidup bersama dan bekerjasama dengan orang lain dalam masyarakat global yang semakin pluralistik atau /majemuk secara damai dan harmonis, yang didasari dengan nilai-nilai demokrasi, perdamaian, hak asasi manusia, dan perkembangan berkelanjutan.
C.     Persoalan-Persoalan Pokok Dalam Belajar
Seseorang dikatakan belajar apabila didalam dirinya telah terjadi perubahan tertentu. Misalnya, dari tidak dapat menggunakan komputer menjadi mahir menggunakan komputer, dan sebagainya. Perubahan sebagai hasil belajar itu diperoleh karena individu yang bersangkutan berusaha untuk itu.
Untuk memahami kegiatan yang disebut belajar perlu dilakukan analisis untuk menemukan persoalan-persoalan apa yang terlibat didalam kegiatan belajar kalau mengikiti analisis sistem, maka kegiatan belajar dapat digambarkan sebagai berikut :
Pendekatan yang paling sederhana adalah secara regresif, yaitu mulai dari “Out Put” (hasil Belajar), dan dari sini dicari keterangan mengenai “Imput” dan “process” mengenai “Process” tidak ada orang yang pernah menyaksikannya. Bahwa suatu “Process” belajar telah terjadi dalam diri seseorang hanya dapat disimpulkan dari hasilnya, yaitu apa yang dapat dilakukan orang tersebut tentang “Imput”, sebagian dapat dihasilkan sebagaiaan lagi tidak, namun bagaimana pengaruh “Imput” terhadap kegiatan belajar juga cuman dapat disimpulkan hasilnya.
Dengan menggunakan kerangka pemikiran seperti yang dikemukankan diatas, maka dapat diidentifikasi bahwa belajar itu mengandung tiga persoalan pokok, yaitu :
a.     Persoalan mengenai “Imput” yaitu persoalan mengenai persoalan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi belajar.
b. Persoalan mengenai “Process” yaitu persoalan mengenai bagaimana belajar itu berlangsung, dan prinsip-prinsip apa yang mempengaruhi proses belajar itu. Persoalan inilah yang merupakan inti dalam psikologi belajar.
c.  Persoalan mengenai “Out Put” yaitu persoalan mengenai hasil belajar. Persoalan ini berkaitan dengan tujuan pendidikan, yang selanjutnya dijabarkan dalam tujuan pengajaran. Suatu hal yang penting dalam lingkup persoalan ini adalah pengukuran hasil belajar.
D.    Prinsip-Prinsip Belajar
Agar siswa berhasil dala proses belajarnya, maka perlu diperhatikan beberapa prinsip dalam belajar sebagai berikut :
1.     Dalam belajar siswa harus diusahakan berperan serta secara aktif, meingkatkan minat dan membimbing untuk mencapai tujuan intruksional.
2.     Belajar bersifat keseluruhan dan materi itu harus memiliki strutur penyajian yang sederhana sehingga siswa mudah menangkap pengertiannya.
3.     Belajar harus dapat menimbulkan penguatan(reinforcement) dan motivasi yang kuat pada siswa untuk mencapai tujun yang instruksional.
4.     Belajar itu proses kontinyu, maka harus tahap demi tahap menurut perkembanannya.
5.     Belajar adalah proses organisasi dan adaptasi
6.     Belajar harus dapat mengembangkan kemampuan tertentu sesuai dengan tujuan instruksional yang harus dicapai.
7.     Belajar memerlukan sarana yang cukup sehingga anak dapat belajar dengan tenang.
8.     Belajar perlu lingkungan yang menantang dimana anak dapat mengembangkan kemampuannya berekplorasi dan belajar dengan efektif.
9.     Belajar perlu ada interaksi anak dengan lingkungannya.
10.  Dalam belajar perlu ulangan berkali-kali agar pengertian itu dalam pada siswa.
E.     Macam-Macam Motivasi Belajar
Dalam membicarakan macam-macam motivasi belajar, disini saya hanya akan dibahas dari dua macam sudut pandang, yakni motivasi yang berasal dari dalam pribadi seseorang yang biasa disebut ”motivasi intrinsik” dan motivasi yang berasal dari luar diri seseorang yang biasa disebut ”motivasi ekstrinsik”.
a.     Motivasi Intrinsik
Menurut Syaiful Bahri (2002:115) motivasi intrinsik yaitu motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak memerlukan rangsangan dari luar, karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Sejalan dengan pendapat diatas, dalam artikelnya Siti Sumarni (2005) menyebutkan bahwa motivasi intrinsik adalah motivasi yang muncul dari dalam diri seseorang. Sedangkan Sobry Sutikno (2007) mengartikan motivasi intrinsik sebagai motivasi yang timbul dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dorongan orang lain, tetapi atas dasar kemauan sendiri. Dari beberapa pendapat tersebut, dapat disimpulkan, motivasi intrinsik adalah motivasi yang muncul dari dalam diri seseorang tanpa memerlukan rangsangan dari luar.
b.     Motivasi Ekstrinsik
Menurut A.M. Sardiman (2005:90) motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena adanya perangsang dari luar. Sedangkan Rosjidan, et al (2001:51) menganggap motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang tujuan-tujuannya terletak diluar pengetahuan, yakni tidak terkandung didalam perbuatan itu sendiri. Sobry Sutikno berpendapat bahwa motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang timbul akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena ajakan, suruhan atau paksaan dari orang lain sehingga dengan keadaan demikian seseorang mau melakukan sesuatu. Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan, motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang timbul dan berfungsi karena adanya pengaruh dari luar.

F.     Macam-macam Teori Belajar
Dalam psikologi dan pendidikan, pembelajaran secara umum didefinisikan sebagai suatu proses yang menyatukan kognitif, emosional, dan lingkungan pengaruh dan pengalaman untuk memperoleh, meningkatkan, atau membuat perubahan’s pengetahuan satu, keterampilan, nilai, dan pandangan dunia (Illeris, 2000; Ormorod, 1995).
Belajar sebagai suatu proses berfokus pada apa yang terjadi ketika belajar berlangsung. Penjelasan tentang apa yang terjadi merupakan teori-teori belajar. Teori belajar adalah upaya untuk menggambarkan bagaimana orang dan hewan belajar, sehingga membantu kita memahami proses kompleks inheren pembelajaran.
Ada tiga kategori utama atau kerangka filosofis mengenai teori-teori belajar,  yaitu : teori belajar behaviorisme,  teori belajar kognitivisme, dan  teori belajar konstruktivisme.  Teori belajar behaviorisme hanya berfokus pada aspek objektif diamati pembelajaran. Teori kognitif melihat melampaui perilaku untuk menjelaskan pembelajaran berbasis otak. Dan pandangan konstruktivisme belajar sebagai sebuah proses di mana pelajar aktif membangun atau membangun ide-ide baru atau konsep.
1.     Teori belajar Behaviorisme
Teori behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.
Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
2.     Teori  Belajar kognitivisme
Teori belajar kognitif mulai berkembang pada abad terakhir sebagai protes terhadap teori perilaku yang yang telah berkembang sebelumnya. Model kognitif ini memiliki perspektif bahwa para peserta didik memproses infromasi dan pelajaran melalui upayanya mengorganisir, menyimpan, dan kemudian menemukan hubungan antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah ada. Model ini menekankan pada bagaimana informasi diproses.
Peneliti yang mengembangkan teori kognitif  ini adalah Ausubel, Bruner, dan Gagne. Dari ketiga peneliti ini, masing-masing memiliki penekanan yang berbeda. Ausubel menekankan pada apsek pengelolaan (organizer) yang memiliki pengaruh utama terhadap belajar. Bruner bekerja pada pengelompokkan atau penyediaan bentuk konsep sebagai suatu jawaban atas bagaimana peserta didik memperoleh informasi dari lingkungan.
3.     Teori Belajar Konstruktivisme
Kontruksi berarti bersifat membangun, dalam konteks filsafat pendidikan dapat diartikan Konstruktivisme adalah suatu upaya membangun tata susunan hidup yang berbudaya modern. Konstruktivisme merupakan landasan berfikir (filosofi) pembelajaran konstektual yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.
Dengan teori konstruktivisme siswa dapat berfikir untuk menyelesaikan masalah, mencari idea dan membuat keputusan. Siswa akan lebih paham karena mereka terlibat langsung dalam mebina pengetahuan baru, mereka akan lebih pahamdan mampu mengapliklasikannya dalam semua situasi. Selian itu siswa terlibat secara langsung dengan aktif, mereka akan ingat lebih lama semua konsep

  

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
1.      Perkembangan merupakan serangkaian perubahan progresif yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman.
2.      Belajar adalah perubahan prilaku sesorang dalam menghadapi setiap hal.
3.      Belajar di bidang formal tidak selalu menyenangkan, sehingga diperlukan motivasi agar belajar terasa menyenangkan. Motivasi belajar setiap orang berbeda, tergantung apa yang di alami orang tersebut dengan keadaan sekitarnya.

B.    Saran
1.     Untuk meningkatkan prestasi kita harus belajar dari pengalaman, menambah pengetahuan dan mengatur waktu setiap hari.
2.     Resep sukses ; Belajar ketika orang lain tidur, bekerja ketika orang lain bermalasan, dan bermimpi ketika orang lain berharap. William A. Ward.



DAFTAR PUSTAKA


belajarpsikologi.com/category/psikologi-perkembangan/2 Apr 2012
Abin Syamsuddin , 1981 ; Psikologi Pendidikan ; IKIP, Pustaka Martiana Bandung
Bimo Walgito, 1986 ; Bimbingan Penyuluhan di Sekolah ; Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi UGM, Yogyakarta.
Konsep Dasar Perkembangan Belajar Peserta Didik. Tanggal 6 Juni 2009
http://id.wikipedia.org/wiki/Belajar 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar