Minggu, 04 November 2012

Pemikiran-Pemikiran Islam Menurut Ibnu Maskawaih


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Ibnu Maskawaih Mungkin jarang sekali mendengar nama Ibnu Maskawaih, bahkan penulis, -dengan segala keterbatasan – kesulitan untuk menemukan rujukan yang memadai yang mengulas tuntas tetangnya, wabilkhusus mengenai pemikiran pendidikannya.
Ibnu Miskawaih merupakan sosok yang sangat terkenal juga dalam bidang pendidikan, ide-ide cemerlang yang dicetuskan Ibnu Miskawaih merupakan sebuah wahana baru dalam bidang pendidikan yang terlahir dari karya seorang Ibnu Miskawaih.  Sepak terjang Ibnu Miskawaih tidak diragukan lagi dalam dunia pendidikan dan pemikiran. gagasan yang beliau tuangkan dan lahirkan merupakan salah satu era terobosan dalam menanggapi kemajuan dunia dalam bidang Pendidikan.[1]

B.    Rumusan Masalah
1.     Bagaimana biografi Ibnu Miskawaih ?
2.     Sebutkan karya-karya Ibnu Miskwaih ?
3.     Sebutkan dan jelaskan konsep Pendidikan Islam Ibnu Miskawah ?


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Riwayat Hidup Ibnu Miskawaih
Ibnu Maskawaih adalah seorang ahli sejarah dan filsafat. Disamping itu, ia juga seorang moralis, penyair serta ahli kimia. Nama lengkapnya adalah Abu Ali Ahmad bin Muhammad bin Yakub bin Maskawaih. Ia dilahirkan pada tahun 320H/932 M, kemudian beliau pindah ke Isfahan dan selanjutnya menetapkan disana, dan beliau meninggal pada tahun 412H/1030 M.[2]
Riwayat detail mengenai riwayat pendidikan Ibnu Maskawaih tidak diketahui dengan jelas. Maskawaih tidak menulis otobiografinya, dan para penulis riwayatnya pun tidak memberikan informasi yang jelas mengenai latar belakang pendidikannya. Namun dalam beberap literatur di dapat ketemukan oleh penulis adalah sebagai berikut : Ia belajar sejarah, terutama Tarikh At Thabary, kepada Abu Bakar Ahmad bin Kamil al Qaghi (350 H/960 M). Ibn Al Khammar, mufassir kenamaan karya-karya Aristoteles, adalah gurunya dalam ilmu-ilmu filsafat. Maskawaih mengkaji alkimia bersama abu At Thayyib ar Razi, seorang ahli alkimia.
Adapun karya-karya Maskawaih yang dapat terekam oleh para penulis sejarah di antaranya adalah sebagai berikut :
a.      Al Fauzul Ashghar, tentang ketuhanan, jiwa dan kenabian (metafisika).
b.     Al Fauzul Akbar, tentang etika.
c.      Thabaratun Nafs, tentang etika.
d.     Takhzibul Akhlak, tentang etika.
e.      Tartibus Sa’adah, tentang etika dan politik.
f.      Tajaribul Umam, tentang sejarah.
g.     Al Jam’i, tentang ketabiban.
h.     Al Adwiyyah, tentang obat-obatan.
i.       Al Asyribah, tentang minuman.
j.       Al Mustaufi, berisi kumpulan syair-syair pilihan.
k.     Maqalat finnafsi wal aql, tentang jiwa dan akal.
l.       Jawizan Khard (akal abadi), tentang pemerintahan dan hukum.[3]
Sebenarnya masih banyak karya-karya dari Maskawaih yang tidak dapat disebutkan satu persatu dalam kesempatan ini.

B.    Pemikiran Pendidikan Ibnu Maskawaih
a.      Pendidikan Akhlak
Maskawaih sebagai disebutkan ia sejatinya adalah filosof muslim yang memusatkan perhatiannya pada etika Islam. Dari sanalah kita dapat menemukan bagaimana pemikiran filsafat moralnya yang berimplikasi pada pemikiran pendidikan.
Filsafat moral sangat berkaitan dengan psikologi, sehingga Maskawaih memulai risalah besarnya itu dengan akhlak, Takhzibul Akhlak dengan terlebih dahulu membahas tentang An Nafs. Baru pada bagian kedua ia membahas tentang Al Khulq. Ia mendefinisikan Al Khulq sebagai berikut :
Artinya, ”khuluq adalah keadaan jiwa yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa dipikirkan dan diperhitungkan sebelumnya”. Berkenaan dengan pengertian Khuluq yang dikemukakan Maskawaih tersebut, dapat disimpulkan bahwa akhlak peserta didik dapat dilatih ke arah yang lebih baik dengan jalan latihan-latihan membiasakan diri, hingga menjadi sifat kejiwaan (akhlak) yang dapat spontan melahirkan perbuatan yang baik.[4]
Maskawaih menetapkan kemungkinan manusia mengalami perubahan-perubahan khuluq, dan dari segi inilah maka diperlukan adanya aturan-aturan syariat, diperlukan adanya nasihat-nasihat dan berbagai macam ajaran tentang adab sopan santun.
b.     Hubungan Murid dengan Guru
Dalam hal ini, Maskawaih menyatakan pendapat Aristoteles, dengan cinta murid kepada gurunya, dan ia berpendapat bahwa cinta yang terakhir ini lebih mulia dan lebih pemurah, karena guru mengajar ruh kita dan dengan petunjuk mereka kita memperoleh kebahagian sejati. Guru adalah ”bapak ruhani dan orang yang dimuliakan ; kebaikan yang diberikan kepada muridnya merupakan kebaikan ilahiah, karena ia membawanya kepada kearifan, mengisinya dengan kebijaksanaan yang tinggi dan menunjukkan kepada muridnya kehidupan dan keberkatan yang abadi”.
c.      Psikilogi Pendidikan Maskawaih
Maskawaih berpendapat tentang pentingnya pengawasan akan perkembangan anak serta menanamkan kebiasaan yang baik guna mencapai kebaikan anak. Penanaman akhlak dan budi sangat dipentingkan oleh Maskawaih dalam pendidikan anak. Ia menjelaskan bahwa malu yang kelihatan pada anak merupakan langkah yang pertama menuju ke arah dan berpikir. Apabila anda melihat seorang anak dan kelihatan ia merasa malu sambil menundukkan kepalanya ke tanah dan tidak menentang anda, ”ini merupakan suatu tanda kecerdikan dan jiwa anak ini untuk dididik, patut diberi perhatian terhadapnya tidak boleh ia dibiarkan dan disia-siakan”. Ia mengatakan bahwa kejiwaan anak-anak adalah matarantai antara jiwa binatang dan jiwa manusia berakal.
Pada jiwa anak-anak berakhirlah ufuk binatang dan mulailah ufuk manusia. Jiwa anak-anak berkembang dari tingkat sederhana kepada tingkat yang lebih tinggi, semula tanpa ukiran, kemudian berkembanglah padanya kekuatan perasaan nikmat dan sakit, kemudian timbul pula kekuatan yang lebih kuat, yaitu kekuatan syahwat, yang sering disebut dengan nafsu kebinatangan.
Dalam perkembangan berikutnya, timbul pula kekuatan sabu’iyah atau ghadhabiyah. Akhirnya dalam perkembangan berikutnya lahir pula kekuatan berpikir, atau jiwa cerdas, yang ditandai dengan timbulnya rasa malu pada anak-anak. Pada tahapan ini, anak-anak dapat merasakan mana yang baik dan mana yang buruk. Pada saat inilah paling tepat pendidikan keutamaan mulai ditanamkan pada anak-anak.
Maskawaih memperhatikan diri sendiri dan mendidiknya dengan mengenal hakikat, sebab-sebab adanya tujuan dan kekuatan. Mengetahui bagaimana cara mencapai kesempurnaan atau mengetahui apa yang menghambatnya untuk sampai kepada kesempurnaan itu. Menurut Ibnu Maskawaih, setiap hal tumbuh dan berkembang melalui fase-fase dan berevolusi. Teori evolusi ini lebih sekedar apa yang dikemukakan oleh Darwin, karena dalam teori evolusi Maskawaih adalah teori mengenai peradaban dan evolusi manusia.
Dengan pengalaman yang dilalui oleh manusia maka mereka mampu berfikir secara rasional dalam membuat keputusan. Evolusi Manusia, dalam pandangan Maskawaih, tidak terbatas secara fisik, tetapi berkembang pula tingkat kecerdasannya, cara berpikirnya bertambah maju sehingga menjadi bijaksana bahkan sampai mendekati derajat para malaikat.
  
BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Ibnu Maskawaih adalah seorang ahli sejarah dan filsafat. Disamping itu, ia juga seorang moralis, penyair serta ahli kimia. Ia dilahirkan pada tahun 320 H/932 M, kemudian beliau pindah ke Isfahan dan selanjutnya menetapkan disana, dan beliau meninggal pada tahun 412H/1030 M.
Adapun karya-karya Maskawaih yang dapat terekam oleh para penulis sejarah di antaranya adalah sebagai berikut :
a.      Al Fauzul Ashghar, tentang ketuhanan, jiwa dan kenabian (metafisika).
b.     Al Fauzul Akbar, tentang etika.
c.      Thabaratun Nafs, tentang etika.
d.     Takhzibul Akhlak, tentang etika.
e.      Tartibus Sa’adah, tentang etika dan politik.
f.      Tajaribul Umam, tentang sejarah.
g.     Al Jam’i, tentang ketabiban.
h.     Al Adwiyyah, tentang obat-obatan.
i.       Al Asyribah, tentang minuman.
j.       Al Mustaufi, berisi kumpulan syair-syair pilihan.
k.     Maqalat finnafsi wal aql, tentang jiwa dan akal.
l.       Jawizan Khard (akal abadi), tentang pemerintahan dan hukum
Adapun Pemikiran Pendidikan Ibnu Maskawaih itu ada 3 yaitu :
a.      Pendidikan Akhlak
b.     Hubungan Murid dengan Guru
c.      Psikilogi Pendidikan Maskawaih

B.    Saran
Ada baiknya konsep Pendidikan Ibnu Miskawaih dapat kita ambil pelajaran dan dapat kita terapkan dalam Konsep Pendidikan kita, agar pendidikan islam bisa berjalan sesuai kaidah-kaidah dan aturan agama islam.


DAFTAR PUSTAKA

Daud, Ahmad. Segi-Segi Pemikiran Falsafi Dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1984.
Hanafi, Ahmad. Pengantar Filsafat Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1991.
M.M.Syarif,Para Filosof Islam,cet.III. (Bandung:Mizan, 1996)
Ahmad Syar'I,Fisafat Pendidikan Islam (Jakarta:Pustaka Firdaus, 2005)
Hasymsyah Nasution MA,Filsafat Islam (Jakarta:Gaya Media Pratama, 1999)
Muhammad Yusuf Musa,Bain al-Din wa al-Falsafah (Kairo:Dar al-Ma'Arif, 1971)
Abuddin Nata,Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam (Jakarta:Raja Grafindo, 2001)



[1]             Ahmad Syar'I,Fisafat Pendidikan Islam(Jakarta:Pustaka Firdaus, 2005),h.92
[2]             M.M.Syarif,Para Filosof Islam,cet.III.(Bandung:Mizan, 1996),h.84
[3]             Ibid, h. 85
[4]             Abuddin Nata,Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam(Jakarta:Raja Grafindo, 2001),h.94

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar